Home » Artikel » Cara Sukses Budidaya Sarang Burung Walet

Cara Sukses Budidaya Sarang Burung Walet

Dec
15
2016
by : Fajar Setiyoko . Posted in : Artikel

Sarang burung walet memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Di pasar internasional kebutuhan sarang walet masih sangat banyak sekali, segala permintaan akan sarang walet datang dari penjuru dunia. Karena itu masih banyak peluang bagi kita untuk terjun mengelola atau membudidayakan sarang burung walet karena ini termasuk bisnis yang sangat menjanjikan.

Sarang burung walet mempunyai banyak sekali manfaat untuk kesehatan, dan karena untuk mendapatkannya cukup sulit berakibat sarang walet memiliki harga yang sangat tinggi.

Sarang walet terbuat dari air liur burung walet (saliva) yang teksturnya seperti agar-agar (gelatin) dengan aroma seperti putih telur. Kandungan gizi yang terdapat di dalamnya sangat besar sekali.

Sarang walet mengandung 345 kalori yang bermanfaat untuk tubuh, serta di dalamnya terkandung 86% protein dan 0.03% lemak. Protein yang terkandung dalam sarang walet termasuk protein yang mudah larut dalam air, sehingga akan mudah diterima dan dimanfaatkan oleh tubuh.

Di dalamnya juga terkandung 17 asam amino esensial, semi esensial, dan non-esensial yang penting untuk mengoptimalkan fungsi organ-organ tubuh. Terkandung juga mineral penting seperti kalsium, kalium, magnesium, besi, fosfor, dan natrium yang banyak berguna untuk tubuh.

Untuk membudidayakan sarang burung walet ini kita membutuhkan beberapa langkah yang harus dipenuhi, di antaranya yaitu:

A. Masalah Pemilihan Lokasi

Pemilihan lokasi rumah sarang walet

Pemilihan lokasi rumah sarang walet

1. Tempat untuk membudidayakan sarang burung walet berada pada dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 meter dari permukaan laut.
2. Tempat tersebut harus jauh dari jangkauan keramaian, suara-suara mesin, kebisingan kegiatan manusia, dan aktivitas manusia Lain yang dapat mengganggu ketenangan burung walet.
3. Usahakan tempat untuk membudidayakan sarang burung walet aman dari gangguan predator seperti burung-burung pemakan daging, ular, kucing, maupun hewan pemangsa lainnya.
4. Lokasi yang cocok untuk membudidayakan sarang walet ini seperti di area persawahan, padang rumput, hutan terbuka, pantai, danau, rawa-rawa, dan area dekat dengan sungai.

B. Penyiapan Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana gedung walet

Gedung walet

1. Suhu, kelembaban, dan tingkat intensitas cahaya

Di dalam membudidayakan sarang burung walet, sangat diperlukan keadaan yang mirip seperti lingkungan alaminya yaitu seperti yang ada pada gua-gua alam. Yang sangat berpengaruh yaitu meliputi suhu, tingkat kelembaban, dan intensitas cahaya.

Untuk suhu ruangan usahakan agar suhu berkisar 24-26⁰ Celsius dengan tingkat kelembaban ±80-95% dengan tingkat penerangan yang teduh tidak terpapar cahaya matahari langsung dan juga tidak terlalu gelap.

Dalam mengatur kondisi suhu dan kelembaban ruangan dapat diakukan dengan cara-cara berikut ini:

a. Melapisi plafon dengan menggunakan sekam dengan ketebalan 20 cm
b. Membuat kolam atau saluran-saluran air di dalam gedung.
c. Menggunakan ventilasi dari pipa dengan bentuk “L” dengan jarak 5 meter satu lubang, dan dengan diameter 4 cm.
d. Menutup rapat semua pintu,, jendela, dan juga lubang-lubang yang tidak terpakai.
e. Pada lubang keluar masuk diberi penangkal sinar dengan bentuk menyerupai corong yang dibuat menggunakan goni atau kain yang berwarna hitam, sehingga keadaan gedung terkesan lebih gelap. Dengan keadaan gedung yang gelap akan lebih disenangi oleh burung walet.

2. Bentuk dan Kontruksi Gedung

Umumnya gedung yang digunakan untuk tempat bersarang atau membudidayakan sarang burung walet seperti gedung bangunan seperti biasanya hanya saja ukurannya lebih besar.

Gedung bangunan untuk bersarang burung walet memiliki luas yang bervariasi mulai dari 10×15 m² hingga 10×20 m². Yang perlu diperhatikan adalah semakin tinggi wuwungan (bubungan) dan semakin besar jarak antara wuwungan dan plafon maka semakin baik pula gedung tersebut, sehingga sarang walet akan lebih menyukainya.

Yang penting untuk diingat juga adalah halaman gedung tidak boleh tertutup oleh pepohonan maupun bangunan tinggi lain. Halaman gedung untuk tempat budidaya sarang burung walet harus kosong terbuka.

Tembok bangunan terbuat dari dinding berplester campuran semen. Pada bagian dalam lebih baiknya terbuat dari campuran pasir, kapur, dan semen dengan perbandingan 3:2:1 yang bertujuan untuk mempermudah mengendalikan suhu dan kelembaban udara dalam gedung. Untuk menghilangkan bau pada semen dapat dilakukan dengan menyiramkan air setiap hari ke tembok gedung.

Tempat melekatnya sarang-sarang burung walet pada kerangkan atap dan pada sekat yang dibuat dari kayu yang kuat, tua, tahan lama, dan yang tahan terhadap rengat. Untuk atapnya dapat menggunakan genting seperti biasa.

Gedung sarang walet juga perlu dilengkapi dengan menyediakan roving room yang berfungsi sebagai tempat berputar-putar dan resting room yang berfungsi sebagai tempat beristirahat dan tempat bersarang.

Lubang keluar masuk burung ke dalam gedung berukuran 20×20 cm² atau 20×35 cm² dibuat pada bagian atas yang kemudian dicat dengan warna hitam. Jumlah lubang dapat disesuaikan sesuai kebutuhan dan kondisi gedung. Yang perlu diperhatikan adalah posisi lubang tidak boleh menghadap e arah matahari terbit atau arah timur.

C. Pembibitan

Pembibitan burung walet

Pembibitan burung walet

Para peternak sarang burung walet biasanya memanfaatkan gedung yang biasanya banyak gedung yang mengitari bangunan tersebut. Untuk memancing agar datang lebih banyak lagi burung walet yang tertarik peternak biasanya menyiapkan beberapa trik seperti menyiapkan tape recorder yang berisi rekaman suara-suara burung walet, ada juga dengan cara lain yaitu dengan menyiapkan sumber makanan untuk burung walet seperti serang-serangga kecil yang disiapkan pada tumpukan jerami.

1. Persiapan Bibit dan Calon Induk

Sebagai langkah awal peternak harus menyiapkan calon indukan, yaitu dengan mengusahakan burung walet ada yang bersarang di gedung baru.

Agar burung walet mau membuat sarang pada gedung baru diperlukan beberapa upaya seperti memutar rekaman suara burung walet. Pemutaran ini dilakukan sekitar pukul 16.00 hingga jam 18.00, yaitu di saat burung walet kembali dari mencari makan.

2. Perawatan bibit dan calon indukan

Penetasan telur merupakan salah satu upaya yang paling baik untuk memperbanyak populasi burung walet. Telur dapat diperoleh ketika peternak melakukan panen secara buang telur.

Panen ini dilakukan setelah burung walet membuat sarang bertelur. Panen buang telur ini dilakukan dengan mengambil sarang burung walet yang gada telurnya yang kemudian telur tersebut dibuang.

Di dalam penetasan telur perlu memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut.

Telur yang akan dipanen terdiri dari 3 macam warna yaitu:
1. Telur walet warna merah muda, telur ini merupakan telur yang beru keluar dari kloaka induk walet. Telur berumur 1-5 hari
2. Telur walet warna putih kemerahan berumur 6-10 hari
3. Telur walet dengan putih telur yang pekat berwarna kehitaman, taur ini mendekati waktu menetas berumur 10-15 hari.

3. Penetasan Telur Walet

Telur hasil sisa rampasan saat panen tidak begitu saja dibuang, namun telur-telur tersebut ditetaskan untuk mendapatkan jumlah burung walet yang lebih banyak lagi. Penetasan telur walet dapat dilakukan dengan beberapa cara, dan yang sering orang lakukan adalah dengan 2 cara berikut ini:

a. Penetasan telur oleh burung sriti

Pada waktu musim bertelur burung biasanya burung sriti juga sama-sama bertelur, saat itu gantikan telur sriti dengan telur burung walet. Untuk melakukan pemindahan telur dapat dilakukan dengan menggunakan sendok plastik atau kertas tisu. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerusakan maupun pencemaran terhadap telur, karena hal itu dapat menyebabkan burung sriti tidak mau mengeraminya.

Penggantian telur dapat dilakukan pada saat siang hari di waktu burung sriti keluar gedung mencari makan. Selanjutnya telur-telur walet tersebut akan dierami oleh burung sriti hingga waktunya menetas kemudian akan diasuh oleh burung sriti tersebut sampai dapat terbang dan dapat mencari makan sendiri.

b. Menetaskan telur walet dengan menggunakan mesin penetas

Untuk suhu mesin penetas kurang lebih sekitar 40⁰C dengan kelembaban sekitar 70%. Untuk mendapatkan kelembaban seperti itu diperlukan beberapa langkah, yaitu dengan meletakkan piring atau cawan berisi air di bagian bawah rak telur.

Telur-telur diletakkan pada rak telur secara merata jangan sampai tumpang tindih. Cek juga untuk air dalam piring atau cawan jangan sampai habis agar kelembaban tetap terjaga.

Pembalikan posisi telur diakukan dua kain sehari. Di saat pembalikan posisi telur dibalik dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan pada embrio. Di hari ketiga dilakukan peneropongan pada telur. Telur-telur yang kosong dan embrionya mati harus dibuang. Embrio yang mati memiliki tanda-tanda yang akan terlihat pada bagian tengah telur terdapat lingkaran darah yang gelap.

Sedangkan telur yang embrionya hidup akan terlihat seperti sarang laba-laba. Pembalikan telur dilakukan hingga hari ke-12. Selama penetasan mesin jangan sampa dibuka kecuali untuk keperluan pembalikan atau mengisi piring atap cawan dengan air sebagai pengatur kelembaban udara pada mesin. Setelah 13 hingga 15 hari telur akan menetas.

D. Pemeliharaan

Pembesaran anak burung walet

Pembesaran anak burung walet

1. Perawatan Telur dan Anak Burung Walet

Setelah penetasan telur anak burung akan sangat lemah. Anak burung walet yang belum bisa makan sendiri perlu disuapi dengan telur semut (kroto segar) tiga kali sehari. Selama 2-3 hari anakan walet ini perlu pemanasan yang stabil dan intensif sehingga tidak perlu dikeluarkan dari mesin tetas.

Temperatur dalam mesin boleh diturunkan 1 hingga 2 derajat per hari dengan cara membuka lubang udara mesin. Setelah anak walet berumur sekitar 10 hari maka bulu-bulu sudah tumbuh , selanjutnya anak walet dipindahkan ke dalam kotak khusus. Kotak dilengkapi dengan pemanas yang diletakkan di tengah atau dipojok kotak.

Setelah berumur 43 hari anak walet yang sudah siap terbang dibawa ke gedung pada malam hari, kemudian diletakkan ke dalam reak pelepasan. Tinggi rak minimal 2 meter dari lantai. Dengan ketinggian ini anak walet akan dapat terbang dengan cara mengikuti cara terbang burung walet dewasa.

2. Sumber Pakan

Burung walet adalah tipe burung yang mencari makan sendiri. Makanan burung walet berupa serangga-serangga kecil yang bayak tersedia di sawah, tanah terbuka, hutan, rawa-rawa, dan area sekitar sungai
Untuk mendapatkan hasil sarang yang memuaskan, peternak harus menyediakan makanan tambahan terutama pada saat musim kemarau. Beberapa cara yang bisa disiapkan adalah sebagai berikut:

1. Menanam tanaman secara tumpang sari.
2. Menyiapkan serangga yaitu seperti kutu gaplek dan nyamuk.
3. Membuat kolam atau aliran sungai di sekitar rumah walet.
4. Menumpuk buah-buah busuk di pekarangan rumah untuk memancing serangga datang.

3. Pemeliharaan Kandang

Jika gedung sudah lama dihuni oleh burung walet, kotoran akan menumpuk di lantai. Kotoran-kotoran tersebut harus dibersihkan. Kotoran -kotoran walet yang menumpuk ini tidak harus dibuang yaitu dimasukkan ke dalam karung dan disimpan di gedung.

E. Hama dan Penyakit Pembudidayaan Sarang Burung Walet

Hama dan penyakit dari budidaya sarang burung walet

Hama dan penyakit dari budidaya sarang burung walet

Hama dan penyakit merupakan penyebab turunnya kualitas sarang dan gangguan bagi perkembangan burung walet. Hama dan penyakit mempunyai dampak yang negatif untuk kesehatan burung walet. Beberapa hama dan penyakit yang sering mengganggu adalah sebagai berikut:

1. Tikus
Tikus merupakan hama yang paling mengganggu dan dapat sangat merugikan bagi peternak burung walet. Tikus ini dapat memakan telur burung walet, anak burung walet, dan bahkan sarang burung walet.

Tikus akan menimbulkan suara gaduh dan kotoran serta air kencingnya dapat menyebabkan suhu yang tidak nyaman bagi burung walet. Cara pencegahan tikus ini dapat diakukan dengan menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas serat kayu-kayu yang dapat menjadi sarang tikus.

2. Semut
Semut merupakan serangga yang cukup mengganggu dan dapat mengakibatkan kerugian bagi peternak sarang burung walet. Semut yang sering menjadi hama adalah semut api dan semut gatal yang biasanya memakan anak burung walet dan mengganggu burung walet yang sedang bertelur.

Cara memberantas semut ini dapat dilakukan dengan melakukan pembersihan dengan memberi umpan untuk memancing semua semut keluar dari sarangnya dan kemudian semut disiram dengan air panas.

3. Kecoak
Kecoak juga menjadi hama dan sumber penyakit bagi burung walet. Kecoak akan dapat memakan sarang burung walet sehingga akan membuat perkembangan tubuh burung walet menjadi tidak normal dan tidak sempurna.

Cara pemberantasan kecoak dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida, menjaga kebersihan dan membuang barang yang tidak diperlukan agar tidak menjadi tempat bersarangnya kecoak.

4. Cecak dan Tokek
Cecak dan tokek juga menjadi hama dan penyakit bagi burung walet. Binatang ini biasanya akan memakan telur, anak burung walet dan saran burung walet. Kotoran dari cecak maupun tokek dapat mencemari ruangan dan suhu dalam ruangan dan dapat menimbulkan gangguan bagi ketenangan burung walet.

Cara memberantasnya yaitu dengan mengakap, untuk menanggulanginya yaitu dengan membuat saluran air di sekitar pagar untuk menghalangi cecak dan tokek datang ke gedung. Kemudian tembok luar gedung dibuat licin dan dicat sera ubang-lubang yang tidak diperlukan ditutup dengan rapat.

F. Masa Panen Sarang Burung Walet

Panen sarang burung walet

Panen sarang burung walet

Masa panen sarang burung walet dapat diakukan pada saat keadaan sarang wali sudah memungkinkan untuk dipanen. Pemetikan sarang burung walet diperlukan dengan cara dan menggunakan beberapa ketentuan tertentu agar hasil yang didapatkan bisa memenuhi mutu.

Jika terjadi kesalahan pada saat memanen sarang burung walet makan hasilnya dapat berakibat fatal bagi gedung tempat bersarang burung walet maupun bagi burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan jika salah teknik dalam memanen maka burung walet akan terasa terganggu dan dapat pindah tempat ke gedung yang lain. Untuk mencegah kemungkinan buruk tersebut para peternak diharuskan mengetahui teknik atau pola memanen dan harus mengetahui waktu yang pas untuk memanen.

Pola panen sarang burung walet dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut ini:

1. Panen Rampasan

Cara ini diakukan setelah sarang walet siap untuk dipakai untuk bertelur, namun dipanen sebelum indikan burung walet belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen yang cepat, kualitas sarang burung walet yang bagus, dan total hasil yang didapatkan pertahunya akan lebih banyak.

Namun cara ini juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu cara ini tidak bagus untuk melestarikan burung walet karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena harus membuat sarang terus menerus sehingga burung walet tidak ada waktu untuk beristirahat. Kualitas sarang pun lama-keamanan akan menurun menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi waktu untuk membuat sarang baru sebagai tempat bertelur.

2. Panen Buang Telur

Cara ini dilakukan setelah burung walet membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur kemudian diambil dan sarangnya dipanen. Pola ini mempunyai keuntungan yaitu dalam periode setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu yang dihasilkan pun juga cukup baik karena ketebalan dan bentuknya telah sempurna.

Kelemahan dari pola panen ini adalah tidak adanya kesempatan bagi burung walet untuk menetaskan telurnya. Sehingga menyebabkan perkembangbiakan burung walet itu sendiri pun terhambat. Kemungkinan terburuknya burung walet akan terganggu dan tidak nyaman sehingga dapat menyebabkan burung walet pindah sarang ke lain gedung.

3. Panen Setelah Penetasan

Pada pola panen ini dapat dilakukan ketikan telur-telur burung walet menetas dan dibiarkan hingga siap terbang. Setelah anak burung walet ini bisa terbang barulah sarang walet dipanen.

Kelemahan pola panen setelah penetasan ini adalah mutu sarang akan lebih rendah karena sudah mulai rusak dan dicemari oleh kotoran dan bulu-bulunya. Sedangkan keuntungannya yaitu burung walet ini dapa berkembang biak dengan baik dan akan menjadikan populasi burung walet dapat meningkat.

Adapun waktu pemanenan sarang burung walet ini adalah sebagai berikut:

1. Panen 4 kali setahun
Panen ini diakukan apabila burung walet sudah kerasan dengan gedung yang dihuni dan populasi burung walet yang ada di dalamnya padat atau sangat banyak. Cara yang dipakai yaitu panen pertama dilakukan dengan pola rampasan, lalu kemudian selanjutnya dengan menggunakan pola panen buang telur.

2. Panen 3 kali setahun
Frekuensi panen cara ini sangat baik untuk gedung walet yang sudah berjalan dan masih membutuhkan penambahan populasi. Cara ini dilakukan dengan cara panen tetasan untuk panen pertama dan kemudian dengan pola rampasan dan panen pola buang telur.

3. Panen 2 kali setahun
Cara panen ini dilakukan untuk tahap awal pengelolaan dan pengembangan gedung agar populasi burung walet dalam gedung dapat meningkat. Tujuan utama dari panen 2 kali dalam setahun ini adalah untuk meningkatkan populasi burung walet.

H. Pasca Panen Sarang Burung Walet

Setelah hasil panen dikumpulkan dan dilakukan penyortiran serta pembersihan dari hasil yang diperoleh. Kemudian sarang burung walat melalui tahap pembersihan dan pencucian dari kotoran-kotoran dan bulu-bulu yang menempel yang kemudian dilakukan pemisahan antara sarang walet bersih dengan sarang walet yang masih kotor. Pemisahan dilakukan bertujuan untuk menjaga harga sarang burung walet tetap terjaga.

Leave a Reply

Kontak

Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut dan untuk pemesanan pada Menu Kontak yang telah Kami sediakan.
Distributor Sarang Walet Terpercaya & Profesional
Yogyakarta
Phone 085725510616
Copyright © 2016